Saturday , August 18 2018
Home / deracine / JagatPlay di E3 2018: Wawancara dengan Hidetaka Miyazaki!

JagatPlay di E3 2018: Wawancara dengan Hidetaka Miyazaki!


Whaboo.org –

Hidetaka Miyazaki, gamer mana yang belum pernah mendengar nama developer yang satu ini? Jika Anda berujung tidak terlalu familiar, ia merupakan otak di balik seri Souls dan Bloodborne yang saat ini, sepertinya sudah “memakan korban” begitu banyak kontroler dan kewarasan gamer. Miyazaki tidak hanya membuat From Software “bangkit” sebagai salah satu developer dengan sepak terjang yang pantas untuk diantisipasi saja, tetapi juga sosok yang berhasil melahirkan sebuah sub-genre yang kemudian diikuti oleh banyak judul setelahnya. Namun kehadiran Miyazaki di E3 2018 ini dan alasan kami mewawancarainya bukan soal seri Souls atau kapan kita akan melihat seri terbaru Tenchu atau Armored Core, atau apakah Bloodborne 2 tengah dikembangkan atau tidak. Kita bicara soal proyek barunya yang lain.

Kejutan sepertinya kata yang tepat untuk diasosiasikan dengan Hidetaka Miyazaki jika kita berbicara soal E3 2018. Karena melenceng dari semua prediksi terkait Bloodborne 2 atau seri terbaru Armored Core yang terus dibicarakan selama ini, Miyazaki dan From Software justru membawa dua proyek teranyar yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya – Sekiro: Shadows Die Twice yang secara mengejutkan, merupakan seri Souls bersama dengan Activison dan sebuah game virtual reality untuk Playstation VR – Deracine. Game kedua inilah yang menjadi alasan kami berbincang-bincang dengan Miyazaki secara langsung, ditemani oleh translator yang menjalankan tugasnya dengan sempurna. Kami tentu saja, berkesempatan untuk melontarkan beberapa pertanyaan yang sudah memancing rasa penasaran sejak awal.

Kami memulai wawancara dengan satu pertanyaan besar yang sepertinya “menghantui” banyak gamer di luar sana juga. Mengapa tiba-tiba beralih dari sebuah game dengan cita rasa Souls menjadi sebuah game virtual reality (VR) yang tentu saja berbeda? Miyazaki menyebut bahwa semuanya dimulai dari fakta bahwa ia berkesempatan untuk menjajal Playstation VR bahkan sebelum headset ini dirilis resmi oleh Sony ke pasaran. Ia berhasil menjajal proyek game di awal proses pengembangan, berujung terkejut dan terkesima bagaimana VR bisa membawa gamer “masuk” ke dalam video game itu sendiri.

Tetapi masuk ke dalam dunia video game itu sendiri baginya, menghasilkan sensasi yang unik. Di satu sisi, ia merasa eksis karena berdiri dan hidup di dalam sebuah video game. Namun di sisi lain, ketika ia harus berhadapan dengan fakta bahwa ia tidak selalu bisa berinteraksi dengan objek yang ia temukan di sana, menghasilkan juga sensasi bahwa ia tidak eksis di dunia yang sama. Konsep dan sensasi inilah yang kemudian ingin ia bawa ke dalam proyek VR itu sendiri, sesuatu yang tidak bisa dirasakan di tempat yang lain. Karena pengalaman inilah, From Software berusaha menjajal dunia VR.

Miyazaki juga menegaskan bahwa alasan lain mereka masuk ke dunia VR juga mengakar dari misi dan tujuan From Software sebagai developer itu sendiri. Pertama, mereka tetap berambisi untuk menjadi salah satu developer yang “menguasai” dunia Virtual Reality itu sendiri. Mereka tidak ingin kehilangan momentum atau tidak terlibat dalam sesuatu yang bisa disebut sebagai “tren” di dalam industri. Miyazaki menyebut bahwa dirinya memahami bahwa ini adalah saat yang tepat untuk masuk.

Kedua, ia mengakui bahwa sulit disangkal bahwa kesuksesan mereka selama beberapa tahun terakhir ini memang dibentuk dan terikat kuat dengan keberhasilan seri Souls dan Bloodborne. Tetapi kedua game tersebut bukanlah satu-satunya identitas From Software saat ini dan di masa lalu. Jika gamer melihat katalog masa lampau From Software, maka mereka akan menemukan banyak game adventure seperti Echo Night misalnya. Karenanya, mereka berpikir bahwa ini juga saat yang tepat untuk membuat portofolio mereka semakin beragam agar mereka tidak berakhir menjadi studio developer yang hanya dikenal karena satu atau dua seri video game saja. Untuk mencapai hal tersebut, mereka ingin kembali ke cita rasa game adventure klasik berbasis cerita.

Ketiga, Miyazaki juga menyebut bahwa sebagian besar game mereka saat ini juga dibangun dalam skala yang besar dengan tuntutan resource yang tidak kalah masif. Tetapi di saat yang sama, From Software juga butuh menantang diri mereka untuk meracik sesuatu dengan resource dan budget yang lebih kecil.

Keempat, bahwa ini memang menjadi salah satu kebiasaan From Software. Walaupun tidak dilakukan berurutan atau setiap tahun, namun From Software memang terkenal sering tiba-tiba melahirkan sebuah video game dengan cita rasa yang unik. Miyazaki mengaku bahwa ia tidak tahu apakah ia berbagi sentimen yang sama dengan anggota tim yang lain, namun fakta ini adalah salah satu sifat “favoritnya” dari From Software. Bahwa studio ini bisa menghasilkan sesuatu yang tidak pernah diprediksi oleh para fans sebelumnya dan ia ingin tren tersebut tetap bertahan di masa depan. Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Souls dan Bloodborne.

Keempat alasan tersebut kemudian melebur dan menghasilkan sesuatu yang menurut kami, hanya bisa dinikmati di dalam dunia VR. Kami kemudian membawa ide tersebut ke Sony Japan Studio dan melihatnya sebagai sebuah ide dan proyek menarik. Dari sanalah, segala sesuatunya dimulai terkait Deracine ini.

Mengenai pergerakan di dalam Deracine yang dieksekusi dengan sistem point dan click, Miyazaki mengakui bahwa hal ini semata-mata untuk meminimalisir rasa pusing yang mungkin terjadi. Ia mengaku dirinya termasuk gamer yang sensitif dengan VR dan mudah merasa pusing, oleh karena itu, Deracine harus dibangun dengan menggunakan kenyamanannya sebagai standar. Jika ia berakhir pusing, maka game tersebut tentu tidak bisa dibilang bagus. Untuk sementara ini, sistem ini berjalan dengan sangat baik. Miyazaki juga mengaku bahwa Deracine tidak pernah didesain untuk menjadi sebuah game VR revolusioner yang mengubah segala sesuatunya. Ia hanya ingin menjadikannya sebagai media cerita yang unik dan berbeda dengan apa yang ia lakukan selama ini. Deracine ia sebut akan menarik untuk gamer yang mencari pengalaman yang mendalam dan pelan.

Mengapa tidak mendorongnya menjadi game 3D konvensional tanpa VR? Ini menjadi pertanyaan kami selanjutnya. Miyazaki menyebut bahwa VR akan membuat ilusi bahwa karakter Anda tidak eksis di timeline yang sama dengan karakter lain di Deracine akan menjadi lebih mumpuni. Ketika berusaha mengeksekusi konsep yang sama di gameplay non-VR, ia yakin ilusi ini tidak akan bekerja sama sekali. Anda bisa merasakan waktu terhenti, sementara aksi Anda akan mengubah segala sesuatunya. Sensasi unik ini akan terasa jauh lebih baik di VR, dimana eksistensi dan non-eksistensi dilebur di satu ruang yang sama.

Deracine sendiri rencananya akan dirilis di tahun 2018 ini, masih tanpa tanggal rilis pasti, untuk Playstation VR.


Tags: , , , , , ,


Source link

About admin

Check Also

Battlefield V Rilis Trailer Baru Keren – “Devastation of Rotterdam”

Whaboo.org – Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan EA dan DICE selama beberapa bulan terakhir …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judi online
soi kèo
agen judi bola
judi bola
sbobet online
agen sbo
judi online
agen bola sbobet
master togel
agen bola
domino online