Saturday , August 18 2018
Home / Features / Menjajal DEMO Pamali: Horror Indonesia Potensial!

Menjajal DEMO Pamali: Horror Indonesia Potensial!


Whaboo.org –

Makhluk halus dan monster adalah dua objek pembahasan yang begitu menarik untuk disimak, terutama dari sisi budaya. Bahwa kepercayaan soal hidup setelah mati, arwah penasaran, dan beragam monster yang mengintai di sudut gelap yang tidak terjangkau oleh manusia ternyata tidak pernah jadi sesuatu yang “eksklusif” untuk satu budaya saja. Pengaruh yang kuat dari budaya, terutama dari sumber ketakutan terbesar, fenomena sosial di masyarakat, kemudian pelan tapi pasti, meracik monster dan beragam makhluk supernatural ini. Semuanya juga diperkuat dengan latar belakang cerita yang tidak sulit untuk membuat bulu kuduk Anda bergidik. Pendekatan inilah yang berusaha ditawarkan oleh developer game asal Bandung – StoryTale Studios lewat proyek game teranyar mereka – Pamali.

Mengingat ia masih berada dalam bentuk demo, tentu sesuatu yang tidak rasional untuk “mengambil keputusan” apakah Pamali akan berakhir jadi game horror terbaik Indonesia, menundukkan Dreadout sekalipun yang saat ini, memang masih menjadi game horror terpopuler di Tanah Air. Namun satu yang bisa Anda tangkap adalah potensi. Karena dari demo singkat yang hanya memperlihatkan satu skenario dari beberapa skenario yang mereka rencanakan dengan berdasarkan makhluk-makhluk halus lokal populer yang ada, Anda bisa melihat usaha untuk menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda. Sesuatu yang alih-alih menjadikan makhluk ini sekedar sebagai sumber ketakutan, tetapi menjadikannya media untuk belajar lebih dalam terkait budaya Indonesia itu sendiri.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Pamali ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game horror Indonesia yang potensial?

(Dimainkan dan di-review dengan SI HITAM MK.I)

Berbeda


Pamali adalah sebuah pendekatan game horror yang berbeda.

Apa yang selalu melekat pada sebuah game horror, baik lokal ataupun barat? Bahwa sebagian besar gameplay yang Anda temukan akan berakhir menjadi dua varian besar – dimana karakter utama bisa melawan atau dimana Anda akan berperan sebagai karakter yang hanya bisa berlari. Keduanya terbukti sebagai formula yang efektif untuk membangun pondasi genre ini. Sisanya adalah membangun dunia dan cerita yang menarik, atmosfer yang mencekam, tata suara yang fantastis, dan desain monster / makhluk yang sepertinya siap untuk membuat isi perut Anda bergejolak ingin keluar. Di satu atau dua titik perkembangan, Anda bertemu dengan game-game horror yang berusaha tampil berbeda. Dari demo yang ditawarkan, Pamali sepertinya masuk ke kategori terakhir ini.

Pamali, seperti namanya, terlihat berfokus pada soal apa yang pantas ataupun tidak pantas, tabu dan tidak tabu, ketika berhadapan dengan situasi dimana kekuatan supernatural berkuasa. Konsep ini menjadikan struktur budaya menonjol sebagai fokus daripada ketakutan melihat atau dihantui oleh para makhluk yang dijadikan sebagai “ancaman” utama. Dan sejauh ini, melihat bagaimana gameplay bergerak, ia terasa berbeda dengan kebanyakan video game horror yang ada. Fokus Anda di sini bukanlah belari atau bersembunyi, tetapi memperhatikan dan mempelajari. Kapan lagi Anda bertemu dengan game horror seperti ini?


Daripada bersembunyi atau berlari, ia menjadi game horror yang justru meminta Anda untuk memerhatikan dan mempelajari.

Seperti nama yang ia usung, Pamali berfokus pada apa yang “boleh dan tidak boleh” Anda lakukan.

Inti dari skenario Kuntilanak yang tersedia dalam demo saat ini, adalah meminta Anda untuk membersihkan sebuah rumah super angker yang penghuninya, memang baru dilanda sebuah tragedi. Dari struktur budaya, dan kami yakin Anda juga pernah mendengarnya di dunia nyata, selalu ada pantangan soal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat terlibat dalam aktivitas seperti ini. Pamali mengeksplorasi konsep tersebut dan kemudian merancang konsekuensi dari setiap aksi yang Anda ambil berdasarkan kepercayaan ini. Di sepanjang perjalanan, sembari dalam proses Anda membersihkan rumah, Anda mulai harus mempertimbangkan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Karena begitu Anda salah langkah dan terus salah langkah, langkah kaki Anda masuk ke rumah tidak akan pernah diikuti dengan langkah keluar.

Sebagai contoh? Anda bisa saja berujung menemukan paku di atas salah satu meja kayu misalnya. Apakah Anda ingin membuang paku tersebut atau justru membiarkannya begitu saja? Atau ketika Anda menemukan sebuah foto yang memancing rasa penasaran untuk dilihat dan diperhatikan, apakah sebaiknya Anda mengabaikannya? Bagaimana jika si kekuatan supranatural tersebut mulai iseng dan tiba-tiba mematikan lampu terdekat,  apakah ini berarti mereka hanya ingin “bermain” atau memperlihatkan rasa tidak senang dengan fakta bahwa rumah tersebut kini berujung terang? Dari konsep gameplay sederhana dimana Anda hanya harus berinteraksi dengan objek yang ada dan menilai cerita dari salinan kertas dan dokumen yang tercecer, Pamali berusaha hadir dengan sebuah konsep game horror yang berbeda.


Di skenario Kuntilanak dalam demo, Anda harus membersihkan ruangan sebuah rumah angker sembari berusaha untuk tidak mengganggu si “penghuni”.

Berinteraksi dengan objek dan memilih, serta berhadapan dengan konsekuensi yang ada adalah intisari dari gameplay Pamali.

Informasi soal apa yang benar atau salah Anda lakukan akan ditawarkan di akhir permainan. Untuk tampil “sempurna”, Anda sepertinya harus melewati proses trial & error berkali-kali.

Apakah berhasil? Dari sisi gameplay, ia memang unik. Namun dari sisi kenyamanan? Kami sendiri melihatnya butuh mengaplikasikan sesuatu yang lebih linear sifatnya dengan proses deskripsi lebih jelas soal budaya, untuk memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Karena untuk saat ini, proses untuk memahami “keinginan” si Kuntilanak agar Anda bisa menempuhnya tanpa bertemu dengan situasi terburuk hanyalah lewat proses Trial & Error. Anda akan mendapatkan informasi apa aksi Anda yang baik dan salah di akhir permainan, dimana Anda berujung harus mengingat dan mempelajarinya. Untuk bisa memahami objektif sesungguhnya, Anda harus menjajal level yang sama berulang-ulang agar tidak melakukan segala sesuatu yang dilarang, dan hanya berfokus pada aksi yang konsekuensinya “positif” untuk akhir permainan. Ini adalah konsep gameplay yang berbeda, namun beresiko di saat yang sama.


Berapa banyak gamer “non-lokal” yang memahami signifikansi dari misalnya, gambar ini.

Usaha untuk menonjolkan sisi budaya dengan apa yang dilakukan oleh Pamali juga butuh kerja keras yang lebih intensif. Berangkat sebagai gamer Indonesia, kita tentu sudah mengetahui soal apa itu Kuntilanak dan latar belakang cerita mistis yang sudah diadaptasikan ke dalam banyak ruang kreatif. Namun membayangkan jika kami adalah gamer luar yang tidak mengenal Indonesia dengan baik, informasi yang ditawarkan sang studio developer terkait sosok Kuntilanak, latar belakang cerita, hingga mengapa ia begitu menyeramkan tidak bisa dibilang lengkap. Hasilnya? Selalu ada kemungkinan bahwa semua hal kecil yang berusaha ditawarkan di game ini, berujung tidak relevan. Butuh informasi yang lebih banyak.

Namun di luar hal tersebut, Pamali harus diakui adalah sebuah game horror Indonesia dengan potensi yang pantas untuk diacungi jempol. Ada banyak pekerjaan berat yang harus disempurnakan, namun pondasinya cukup untuk membuat Anda menantikan seperti apa versi finalnya.


Tags: , , ,


Source link

About admin

Check Also

Battlefield V Rilis Trailer Baru Keren – “Devastation of Rotterdam”

Whaboo.org – Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan EA dan DICE selama beberapa bulan terakhir …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judi online
soi kèo
agen judi bola
judi bola
sbobet online
agen sbo
judi online
agen bola sbobet
master togel
agen bola
domino online